Sabtu, 22 Desember 2012

Posted by bangga indonesia |
Pengenalan C++
Berbicara tentang C++ dan C sebagai bahasa pendahulunya, C merupakan termasuk bahasa pemrograma n tingkat menengah. Pencipta C adalah Brian W. Kernighan dan Dennis M. Ritchie pada tahun 1972. C merupakan bahasa pemrograman terstruktur yang membagi program ke dalam sejumlah blok (sub program). Tujuannya adalah untuk memudahkan dalam pembuatan dan pengembangan program. Program yang ditulis dengan C mudah sekali dipindahkan dari satu jenis mesin ke mesin lain. Hal ini karena adanya standarisasi C yaitu ANSI (American National Standards Institute) yang menjadi acuan para pembuat compiler C.
C++ diciptakan satu dekade setelah C. C++ diciptakan oleh Bjarne Stroustroup dari Laboratorium Bell, AT&T pada tahun 1983. Pada awalnya C++ diberi nama “A better C”. Nama C++ sendiri diberinama oleh Rick Mascitti. Adapun tanda ++ berasal dari operator increment pada bahasa C.
Keistimewaan C++ adalah karena bahasa ini mendukung OOP (Object Oriented Programming). Tujuan utama pembuatan C++ adalah untuk meningkatkan produktivitas pemrogram dalam membuat aplikasi. Kebanyakan pakar setuju bahwa OOP dan C++ mampu mengurangi kompleksitas terutama program yang terdiri dari 10.000 baris lebih, bahkan dapat meningkatkan produktivitas 2x lipat dari 
Ide dasar OOP adalah mengkombinasikan data dan fungsi untuk mengakses data menjadi sebuah kesatuan unit. Unit ini dikenal dengan obyek. Sebagai gambaran untuk mempurmudah memahaminya, obyek sebenarnya dapat mencerminkan pola kerja manusia sehari-hari. Sebuah obyek dapat diibaratkan sebagai departemen di dalam sebuah perusahaan bisnis, misalnya departemen - penjualan - akunting - personalia

Pembagian departemen dalam perusahaan merupakan upaya untuk memudahkan pengoperasian perusahaan. Sebagai gambaran, jika Anda seorang manajer penjualan di kantor pusat ingin mengetahui data para salesmen di kantor cabang, apa yang Anda lakukan? Langkah yang Anda tempuh pasti bukan datang ke kantor cabang dan mencari data-data tersebut. Untuk memudahkan tugas Anda cukup Anda menyuruh sekretaris untuk meminta informasi. Masalah bagaimana dan siapa yang mencarikan bukanlah urusan Anda. Analogi dengan hal itu, kalau seseorang bermaksud menggunakan obyek, ia cukup mengirim pesan ke obyek dan obyek itu sendiri yang akan menanganinya.

C. Program C++ Program C++ dapat dibuat menggunakan sebarang editor teks maupun editor sekaligus compilernya. Program utama berekstensi (.CPP). Pada saat kompilasi program utama bersama dengan file header (.h) akan diterjemahkan oleh compiler menjadi file obyek (.OBJ). Selanjutnya file obyek ini bersama-sama dengan file obyek lain dan file library (.LIB) dikaitkan menjadi satu oleh linker. Hasilnya adalah file (.EXE) executable.
D. Compiler C++
Compiler C++ yang telah beredar di pasaran antara lain Microsoft C/C++ dan Visual C++. Keduanya dari Microsoft. Sementara Borland international juga mengeluarkan Turbo C++ dan Borland C++.
                              BAB II. PENGENALAN PROGRAM C++
A. Hello World
Berikut ini contoh program C++ yang sederhana
#include
void main() { cout << “Hello world.\n”; }
Setelah dicompile dan dirun, hasilnya adalah muncul pada layar Hello World.

B. Fungsi main()
Program C++ memang tidak akan pernah lepas dari suatu fungsi/function. Hal ini karena merupakan ciri OOP. Sebuah program C++ minimal memiliki satu fungsi yaitu main(). Fungsi ini merupakan awal program utama. Tulisan main() merupakan nama fungsi, sedangkan bagian yang diapit dengan { dan } disebut blok (tubuh fungsi). Dalam hal ini { merupakan tanda awal blok dan } adalah tanda akhir blok. Seperti halnya dalam Pascal, { dalam Pascal identik dengan BEGIN, sedangkan } identik dengan END. Perintah void bermakna bahwa fungsi main() tidak mengembalikan nilai/value.
Cara penulisan fungsi main() tidak mutlak seperti di atas. Berikut ini cara penulisan yang lain
#include
int main() { cout << “Hello world.\n”; return 0; }

C. Statement
Perintah cout << “Hello world.\n”; merupakan salah satu contoh statement. Perintah tersebut digunakan untuk mencetak tulisan pada layar. Setiap statement harus diakhiri dengan ;
Hal yang menjadi catatan penting di sini bahwa program C++ bersifat Case Sensitive, artinya huruf besar dan kecil dianggap beda.
Tanda \n digunakan untuk pindah baris.

D. File Header Pada contoh di atas, iostream.h disebut file header. File header tersebut diperlukan agar perintah cout bisa dijalankan. Apabila file header tersebut dihapus, maka akan terjadi error. Untuk mengakses file header, digunakan perintah #include , atau #include “file header”. Dalam suatu program bisa jadi melibatkan lebih dari satu file header.
Catatan:
Perintah cout << “Hello world.\n”; dapat diganti dengan printf(“Hello world.\n”);
Akan tetapi untuk bisa menggunakan printf diperlukan file header stdio.h

E. Menghapus Layar
Dalam C++, perintah clrscr() ; digunakan untuk menghapus/membersihkan layar. Perintah ini akan bisa dijalankan setelah ditambahkan file header conio.h
#include #include
void main() { clrscr(); cout << “Hello world.\n”; }
F. Komentar Anda dapat menambahkan komentar pada program Anda. Berikut ini style untuk menambah komentar.
// ---------------------------------- // ini adalah komentarku yang pertama // ----------------------------------
atau
/* ----------------------------------   ini adalah komentarku yang pertama   ---------------------------------- */
By: Arifasyk

Kamis, 20 Desember 2012

Posted by bangga indonesia | File under :




KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT. Karena dengan rahmat dan karunia-Nya lah sehingga Penyusunan Makalah  ini telah dapat diselesaikan.
Melihat perkembangan dunia pendidikan saat ini dimana SMK sebagai salah satu lembaga yang bertujuan menciptakan tenaga kerja yang handal dibidangnya, namun alumnus SMK masih banyak yang mengangur. Melalui makalah ini saya mengajak dan memberikan beberapa konsep-konsep yang perlu dipakai demi kemajuan SMK ditengah pengaruh globalisasi. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada yang terhormat :
1.      Bpk. Drs.Tri Atmadji yang telah membimbing dan memberi pengarahan  dalam keiatan pembelajaran dan pembuatan makalah ini.
2.      Teman-teman off A PTI 2012 yang telah memberikan saya banyak inspirasi tentang penyusunan makalah ini.
3.      Pepustakaan Kota Malang dan Perpustakaan Universitas Negeri Malang yang telah menyiapkan sarana dan prasarana berupa buku-buku sebagai bahan refrensi saya.
Semoga Allah SWT  memberikan balasan atas kebaikan yang telah diberikan kepada penulis. Penulis menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang sifatnya konstruktif sangat diharapkan oleh penulis. Penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi semua pihak yang berkompeten. Amin.

Malang, 09 November 2012


Penulis






DAFTAR ISI
Halaman Judul................................................................................................................... 1
Kata Pengantar................................................................................................................... 2
Daftar Isi............................................................................................................................ 3
BAB I (PENDAHULUAN)............................................................................................... 4
1.1       Latar Belakang....................................................................................................... 4
1.2       Rumusan Masalah.................................................................................................. 4
1.3       Tujuan Penulisan.................................................................................................... 4
BAB II (PEMBAHASAN)................................................................................................. 5
BAB III (PENUTUP)........................................................................................................ 17
3.1       Kesimpulan............................................................................................................18
3.2       Kritik dan Saran.....................................................................................................18
Daftar Pustaka................................................................................................................... 19










BAB I
PENDAHULUAN
1.1         Latar Belakang Masalah
Pendidikan adalah kunci dan indikator pendekatan dasar dalam pembangunan suatu negara,  sekaya apapun suatu negara itu apabila tidak didukung dengan SDM yang berkualitas maka bisa dipastikan negara itu akan jatuh miskin. Oleh karena itu peran pendidik adalah yang paling vital dalam hal pembangunan bangsa ini. Peningkatan kualitas pendidikan tidak hanya dengan memberikan sumbangan yang signifikan bagi sarana dan prasarana, tetapi juga pola peningkatan kualitas, profesionalitas dari seorang guru.
Pendidikan adalah salah satu upaya mencerdaskan masyarakat, pendidikan juga tidak hanya memberikan pengetahuan bagi para siswa tetapi juga memberikan ketrampilan baik ketrampilan dalam berkehidupan masyarakat maupun ketrampilan kerja. Oleh karena itu, pendidikan haruslah selalu berkembang, berkembang dengan seiringnya zaman karena pendidikan tidak menyiapkan peserta didik untuk saat ini, tetapi untuk masa depan .
Itulah tantangan SMK saat ini, SMK harus mampu mengikuti perkembangan zaman yang begitu cepat sehinga kebutuhan kompetensi tenaga kerja juga berubah. Oleh karena itu seluruh sistem harus dikembangkan dan diperbaharui mengikuti kebutuhan masa depan, karena tujuan utama SMK adalah penyiapan peserta didik dalam dunia kerja.
Peran serta guru sebagai pendidik sangat penting dan vital, karena guru menjadi pioner dalam penyampaian materi kepada peserta didiknya,guru juga harus berkembang wawasan, ilmu serta keahlian demi terwujudnya SMK yang mampu bersaing dalam dunia kerja dan dunia pendidikan di era modern saat ini.


1.2         Rumusan Masalah
1.2.1                 Bagaimana konsep pengembangan SMK yang baik?
1.2.2                 Bagaimana penyiapan Guru SMK agar selalu berkembang mengikuti perkembang zaman?
1.3         Tujuan Penulisan
1.3.1                 Menjelaska konsep pengembangan SMK saat ini.
1.3.2                 Menjelaskan cara dan konsep pengembangan Guru SMK agar SMK mampu bersaing dalam dunia kerja dimasa depan
BAB II
PEMBAHASAN
3.1         Konsep pengembangan SMK saat ini.
3.1.1                 Pengertian dan Tujuan SMK .
Pendidikan Kejuruan adalah bagian dari sistim pendidikan yang mempersiapkan seseorang agar lebih mampu berkerja pada suatu kelompok pekerjaan atau satu bidang pekerjaan daripada bidang bidang perkerjaan lainnya. Pendidikan kejuruan merupakan pendidikan yang mempersiapkan perserta didik untuk dapat berkerja dan bersaing di dunia kerja dalam bidang tertentu. Dalam Peraturan Pemerintah No.29 Tahun 1990 tentang Pendidikan Menengah, yaitu : Pendidikan Menengah yang mengutamakan pengembangan kemampuan siswa untuk pelaksanaan jenis pekerjaan tertentu. Dari isi PP diatas kita bisa menyimpulkan bahwa pendidikan kejuruan adalah pendidikan yang mempersiapkan peserta didiknya untuk memasuki dunia. SMK saat ini menjadi perhatian pemerintah terbukti Saat ini banyak didirikan SMK-SMK negeri ataupun swasta untuk menyeimbangkan jumlah siswa SMK:SMA. Hal ini sesuai dengan arahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam Rembug Pendidikan Nasional (RPN) pada Februari 2008 tentang penyeimbangan jumlah siswa SMK:SMA. Untuk menjadikan rasio jumlah siswa SMK:SMA adalah 67:33 pada tahun 2014. Hal itu dilakukan agar lulusan sekolah menengah mampu bersaing dalam dunia kerja, karena SMK dirasa memang diciptakan dan dicetak untuk memasuki dunia kerja dan sesuai dengan Misi SMK:
1.     Meningkatkan Profesionalisme dan Good Governance SMK sebagai Pusat Pembudayaan Kompetensi
2.     Meningkatkan Mutu Penyelenggaraan Pendidikan (8 SNP)
3.     Membangun dan memberdayakan SMK Bertaraf Internasional sehingga menghasilkan lulusan yang memiliki jati diri bangsa dan keunggulan kompetitif di pasar nasional dan global.
4.     Memberdayakan SMK untuk Mengembangkan Potensi Lokal menjadi Keunggulan Komparatif
5.     Memberdayakan SMK untuk Mengembangkan Kerjasama dengan Industri, PPPG, LPMP, dan Berbagai Lembaga Terkait
6.     Meningkatkan Perluasan dan Pemerataan Akses Pendidikan Kejuruan yang Bermutu
dan Tujuan Smk yaitu:
1.      Mewujudkan Lembaga Pendidikan Kejuruan yang akuntabel sebagai Pusar Pembudayaan Kompetensi Berstandar Nasional
2.      Mendidik Sumber Daya Manusia yang mempunyai etos kerja dan kompetensi berstandar internasional
3.      Memberikan berbagai layanan Pendidikan Kejuruan yang permeabel dan flesibel secara terintegrasi antara jalur dan jenjang pendidikan
4.      Memperluas layanan dan pemerataan mutu pendidikan kejuruan
5.      Mengangkat keunggulan lokal sebagai modal daya saing bangsa

Dahulu pendidikan SMK merupakan pilhan nomor dua setelah SMA, karena sebagian besar para siswa lulusan SMP yang tidak diterima di SMA Negeri, pilihan sekolah berikutnya adalah SMK Negeri dan SMA Swasta. Akan tetapi saat ini SMK mampu bersaing dengan SMA karena SMA dan SMK mempunyai sebuah spesifikasi tersendiri sehingga antara SMA dan SMK merupakan sebuah pilihan yang berbeda serta tidak saling tumpah tindih atau dinomor duakan
Saat  ini perkembangan minat siswa SMP untuk melanjutkan ke SMK mulai mengalami perkembangan, dengan jumlah siswa SMK yang semakin bertambah. Dan ini tidak terlepas dari program-program kerja dari pemerintah pada umumnya dan Direktorat Pembinaan SMK pada khususnya yang telah banyak melaksanakan berbagai macam program yang menambah jumlah SMK dan meningkatkan kualitas dari SMK yang sudah ada melalui berbagai macam bantuan yang diberikan pada sekolah SMK.
SMK pun tidak menjadi sekolah nomor dua setelah SMA, SMK sekarang telah mulai jadi pilihan anak-anak lulusan SMP sebagai sekolah tempat mengasah kemampuan, bakat dan minat siswa yang ingin mengembangan potensi ketrampilan khusus/tertentu pada dirinya.
Dengan adanya bukti keunggulan dari siswa SMK, maka tidak diragukan lagi bahwa lulusan SMK adalah lulusan yang siap pakai. Sehingga setelah siswa SMK dapat menyelesaikan pendidikan, maka siswa SMK dapat bekerja di perusahaan-perusahaan atau instansi pemerintah sesuai dengan kompetensi yang dimiliki siswa SMK tersebut. Dan sekarang beberapa siswa SMK, sudah banyak yang dipesan untuk bekerja di dunia usaha atau dunia industri sejak siswa SMK tersebut melakukan praktek kerja industri di perusahaan-perusahaan.

3.1.1.1                Konsep Pengembangan SMK dalam era Globalisasi
Istilah Globalisasi bermakna mewujudkan dunia sebagai satu keutuhan tanpa adanya batasan administrasi Negara dan semakin besarnya ketergantungan antar bangsa. Kini globalisasi sudah menerpa seluruh aspek kehidupan, penghidupan, serta kebudayaan manusia dengan berbagai dampak. Menurut (Emil Salim 1990:8-9), terdapat empat bidang kekuatan yang paling kuat dan menonjol dalam globalisasi, yaitu bidang-bidang IPTEK, Ekonomi, Lingkungan Hidup, serta Pendidikan.
Berikut beberapa kecenderungan dari keempat bidang tersebut:
a.         Bidang IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) mengalami perkembangan sangat signifikan utamanya dengan penggunaan berbagai teknologi canggih di berbagai aspek kehidupan. Hal ini membuat dunia terasa sempit dan transparan sehingga memberi pola pikir baru dalam bersikap, berfikir dan berbicara tanpa batasan Negara.
b.        Bidang Ekonomi mengarah ke ekonomi global yang tidak mengenal batas negara. Di berbagai bagian dunia muncul banyak kelompok-kelompok ekonomi regional. Peristiwa ekonomi di suatu tempat pun memberikan dampak kepada wilayah lainnya. Hal ini menyebabkan Kenichi Ohmac memberi judul “The Borderless World” pada bukunya (1990, dari Dedi Supendi, 1990:60)
c.         Bidang Pendidikan sebagai identitas suatu negara mendapatkan terpaan tentang gagasan-gagasan pendidikan serta secara langsung diterima oleh setiap individu melalui berbagai media. Hal itu akan mempengaruhi wawasan, pikiran, dan bahkan perilaku manusia, selanjutnya bahkan mungkin tercipta suatu “Budaya Baru” (Refleksi,1990:3)
Dalam dunia SMK perkembang globalisasi yang begitu cepat harus terus diiringi dengan pengembangan wawasan ilmu pengetahuan, karena dunia SMK memiliki keterkaitan yang begitu erat dengan dunia kerja yang juga terus berkembang secara pesat sehinga kebutuhan akan kompetensi pekerja juga terus meningkat. Inilah sebuah tantangan SMK untuk terus meningkatkan kualitas agar tujuan SMK yang utama bisa terwujud yaitu Mendidik Sumber Daya Manusia yang mempunyai etos kerja dan kompetensi berstandar internasional.
3.1.1.2           Konsep Pengembangan SMK Secara Umum
Dunia industri dimasa yang akan datang membutuhkan banyak sekali kompetensi yang bervariasi, kompetensi adalah kemampuan yang disyaratkan untuk menyelesaikan tugas tertentu pada dunia kerja dan mendapatkan pengakuan resmi atas kemampuan tersebut (Depdiknas,2004: 16). Sedangkan yang dimaksud kompetensi apabila kita kaitkan dengan SMK adalah kemampuan pengetahuan, praktik, ketrampilan dan siap kerja. Kompetensi dapat dikenali dari hasil belajar dan hasil karya peserta didik.
Pendidikan kejuruan merupakan pendidikan yang memang dipersiapkan untuk angkatan kerja yang kompetitif yang akan memasuki persaingan dunia kerja, secara individual kompetensi diartikan sebagai pengetahuan, ketrampilan dan kemampuan yang dapat menghasilkan unjuk kerja (spencer, 1993: 11). Berdasarkan pada 2 refrensi diatas dapat disimpulkan bahwa refrensi adalah pernyataan ketrampilan dan pengetahuan serta sikap yang harus dimiliki oleh seseorang untuk mengerjakan suatu pekerjaan yang dipersyaratkan. Kompetensi dalam perspektif modern diartikan sebagai kemampuan seseorang ketika ia mengerjakan suatu tugas yang dihadapi sekarang, bukan kemampuan mendemonstrasikan pengetahuan dan ketrampilan yang telah diperoleh sebelumnya (spencer,1995: 56).
Dari berbagai uraian itu maka kompetensi mencangkup tiga hal dalam pendidikan kejuruan yaitu pengetahuan, ketrampilan (motorik) dan sikap. Untuk mengetahui sejauh mana kompetensi yang dicapai peserta didik SMK ketiga hal itu harus menjadi objek dalam penilaian (Muh Akyart, 2008: 23).
Konsep pengembangan SMK yang berbasis kompetensi mensyaratkan secara jelas bahwa kompetensi harus dimiliki oleh peserta didik setelah mengikuti pembelajaran. Oleh karena itu pencapaian kompetensi yang maksimal kepada peserta didik sangat berkaitan erat dengan sistem pembelajaran, pola pembelajaran yang dilakukan oleh pengajar itu sendiri. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang diterapkan SMK kali ini menitik beratkan pada peserta didik untuk mampu mengembangkan kreatifitas, nilai, estetika dan pengetahuan. Sehubungan adanya kurikulum yang menitik beratkan pada kemandiriaan itu, standar pencapaian kompetensi dari pengajar haruslah jelas, disamping itu juga perlu dikembangkan formula baru yang melihat dari tren,tuntutan globalisasi dan tuntutan pasar kerja baik lokal, nasional maupun internasional. Dalam sebuah aliran filosofi yang dipakai kejuruan yang berkaitan dengan education for work yaitu pragmatisme yang berpandangan bahwa pendidik dan peserta didik keduanya penting bagi proses pembelajaran.
Dalam situasi nyata pengalaman sangatlah penting, oleh karena itu pendidik harus progresif dan berkewajiban membuka ide-ide baru bagi peserta didiknya karena dalam kurikulum KTSP guru harus mampu menjadi inspirator bagi peserta didiknya.
Adanya sebuah kurikulum sekarang ini bukanlah sebuah sistem baru dalam dunia pendidikan melainkan penyempurnaan dari sistem yang sebelumnya, metode dulunya konvensional (guru berceramah) sekarang digeser fungsinya menjadi inspirator dan pendorong bagi peserta didik sehingga kegiatan pengajaran berpusat pada peserta didik, adanya pengembangan kreatifitas peserta didik, menimbulkan rangsangan peserta didik untuk berfikir kritis yang dapat melahirkan pemikiran yang inovatif.
Pendidik juga harus mampu merubah persepsi kepada para peserta didiknya bahwa yang terpenting dalam bidang itu adalah pemahaman dan ketrampilan yang memadai bukanya nilai diraport. Pendidik juga harus bisa memastikan peserta didiknya mampu, paham dan bisa menguasai apa yang dia ajarkan, karena ketrampilan adalah sesuatu yang sensitif. Ketidak bisaan suatu ketrampilan ditengah materi akan berimbas pada materi selanjutnya dan juga ketrampilan yang kurang maksimal.
PSG (Pendidikan Sistem Ganda) adalah suatu bentuk penyelengaraan pendidikan keahlian profesional yang memadukan secara sistematik dan singkron antara program pendidikan di sekolah dengan program perusahaan yang dilakukan untuk mencapai tingkat yang maksimal.
Pola penempatan PSG  juga perlu diperhatikan karena jangan sampai tempat para peserta didik itu untuk magang adalah tempat yang kurang mampu merangsang dan membangun kompetensinya untuk maju. Sekolah dan para pendidik harus mampu menempatkan peserta didiknya ditempat yang kiranya mampu merangsang keahlianya untuk digali lebih dalam.


3.1.1.3                     Konsep Pengembangan SMK dalam dunia Industri
Secara umum fungsi lingkungan pendidikan adalah membantu peserta didik dalam berinteraksi dengan berbagai lingkungan sekitarnya (fisik,sosial, dan budaya). Utamanya berbagai sumber daya pendidikan yang tersedia, agar dicapai tujuan yang maksimal. Penataan itu terutama dimaksudkan agar proses pendidikan bisa berjalan efisien dan efektif sehinga pelaksanaan pendidikan yang diamanatkan (ayat 1 pasal 1 dari UU RI No. 2/1989) yaitu tentang tritunggal pendidikan (membimbing, mengajar, melatih). Adapun aspek tujuan pokok ketiganya yakni:
a.       Membimbing, terutama berkaitan dengan pemantapan jati diri dan pribadi dari segi perilaku umum (aspek pembudayaan).
b.      Mengajar, terutama berkaitan dengan penguasaan ilmu pengetahuan.
c.       Melatih, terutama berkaitan dengan ketrampilan dan kemahiran (aspek teknologi).
Kecakapan dalam berkehidupan atau lebih sering disebut life-skill tidak hanya cukup kecakapan yang menghasilkan teknologi tepat guna, tetapi juga kecapakan memanfaatkan informasi seoptimal mungkin yang berguna membentuk jati diri, oleh karena itu diberikanlah berbagai ketrampilan guna dalam rangka penguasaan multi-skill, sedangkan kemampuan life-skill akan diperoleh dalam proses belajar. Belajar adalah suatu proses penyempurnaan diri menuju lebih baik, adapun tujuan pembelajaran menitik beratkan pada intelektual, moral, dan ketrampilan. Sekolah akan kehilangan makna apabila menekankan pada salah satu tujuan itu saja ataupun ada salah satu tujuan yang tidak tercapai (Harefa,2000:56).
Jadi secara umum keterampilan belajar meliputi mengingat fakta, mengingat konsep, mengingat prosedur, mengingat prinsip, menggunakan konsep, menggunakan prosedur, menggunakan prinsip, mengembangkan konsep, mengembangkan prosedur, dan mengembangkan prinsip. Selanjutnya arti belajar dalam konteks belajar keterampilan adalah proses pembentukan jati dirinya yang mengarah kepada keterampilan pengembangan potensi
, kreativitas dan kompetensi.

Adanya sebuah perkembangan yang begitu cepat dan kurangnya diimbangi dengan perkembangan SMK membuat tenaga kerja SMK dianggap belum mampu, memiliki kemampuan yang memadai untuk menjadi tenaga kerja yang produktif, tak ayal banyak tenaga SMK yang hanya mampu menjadi tenaga kerja rendahan atau bahkan lebih banyak menganggur. Penyempitan kembali ruang lingkup dan keahlian dirasa perlu untuk meningkatkan standar kompetensi dan skill yang mereka miliki, sehingga keahlian dari SMK tidak diragukan lagi.
Berkembangnya kebutuhan dan ketrampilan bidang industri juga harus mampu diimbangi dengan sarana dan prasarana yang berkaitan dengan teknologi saat ini, sehingga tenaga SMK sudah dapat dikatakan terampil mengunakan teknologi yang ada di industri. Pola magang pun juga perlu ditingkatkan kualitasnya, mereka juga harus dan perlu diberikan kesempatan pada suatu posisi penting dalam sebuah pekerjaan, guna memberikan pengalaman yang bisa digunakan untuk bekerja nantinya.  

3.1.1.4      Konsep Pengembangan SMK dalam Dunia Wirausaha Mandiri
Kewirausahaan merupakan sikap, jiwa, semangat mulia pada diri seseorang yang inovatif, kreatif, berupaya untuk kemajuan pribadi terutama dalam bidang ekonomi. Pendidikan sekolah saat ini dituntut untuk mampu menghasilkan para lulusan yang mampu bersaing dan madiri dalam hal ekonomi, sehingga pendidikan dituntut untuk memberikan orientasi yang jelas, seperti SMK yang memang secara jelas disiapkan untuk langsung terjun didunia kerja.
Potensi lulusan SMK bukan hanya siap diperkejakan pada dunia usaha dan industri tetapi mereka juga secara alamiah akan siap untuk menciptakan lapangan pekerjaan baru sesuai dengan keahlianya. Disinilah peran pendidik yang harus mampu membangun jiwa dan karakter sebagai wirausahaan. Lulusan yang siap berwirausaha merupakan tantangan baru bagi pendidikan di sekolah kejuruan, karena kita ketahui jumlah angkatan kerja setiap tahun yang meningkat tidak diiringi jumlah peluang kerja yang besar oleh karena itu pemberian ketrampilan dalam berwirausaha juga tak kalah penting karena bukan tidak mungkin kesuksesan wirausaha mereka akan berdampak pada terciptanya permintaan kerja.
            Kesuksesan pelaku wirausaha dalam berwirausaha tidak lepas dari kreativitas dan inovasi. Inovasi yang bagus dan didukung dengan kreativitas merupakan sumber penting dari kekuatan persaingan, karena kebutuhan pasar yang sering berubah maka pelaku wirausaha dituntut untuk terus melakukan inovasi baru agar usaha bisa tetap berjalan. Untuk itu perlunya ditanamkan kemampuan kepada peserta didik SMK untuk peka terhadap perubahan, serta bisa memberikan tangapan dan respon atas suatu keadaan tertentu, karena ada empat sisi potensi manusia yang perlu digali yaitu a) sikap untuk mawas diri; b) mempertajam suara hati supaya menjadi manusia berkehendak baik, serta memiliki misi dalam hidup ini; c) pandangan yang mandiri untuk bekal bertindak dan kekuatan untuk mentransendensi; d) berfikir transenden dan mengarah ke depan/jangka panjang untuk memecahkan berbagai masalah dengan daya khayal dan imajinasinya (Mutis, 1995 : 2).
Peserta didik juga perlu diberikan pengetahuan dan pemahaman tentang bagaimana cara mengelola aset utamanya. Aset utama tersebut dapat berupa posisi pasar, orang-orang yang berkualitas, sistem distribusi, kemampuan teknis (hak paten) dan merk (Mutis, 1995 : 2). Pengajar juga harus mengajarkan tentang bagaimana cara memaksimalkan kekreatifan dengan cara: rasa keterbukaan pada pengalaman, melihat sesuatu dengan cara yang tak biasa, dapat menerima perbedaan, percaya diri, dan mau menjadi diri yang lain daripada yang lain.
Pendidikan kewirausahaan adalah pendidikan yang menerapkan prinsip-prinsip dan metodologi ke arah pembentukan kecakapan hidup pada peserta didiknya melalui kurikulum yang terintegrasi yang dikembangkan di sekolah (Joko Sutrisno, 2003: 48). Dengan adanya pendidikan kewirausahaan disekolah maka peran dan keaktifan guru dalam mengajar harus menarik, mereka harus mampu membuat situasi seolah-olah kehidupan nyata berwirausaha terjadi disana, peran aktif dari para peserta didik juga sangat dibutuhkan karena sasaran pengajaran adalah peserta didik itu sendiri. Ada berbagai faktor pemicu agar peserta didik mau berwirausaha yaitu adanya praktek kecil-kecilan dalam bisnis dengan temanya, adanya tim bisnis disekolah yang ada diajak bekerja sama dalam berwirausaha, adanya dorongan dari orang tua.
Penumbuhan mental berwirausaha sangatlah perlu ditanamkan karena mental ini harus dibentuk sedini mungkin agar nantinya lulusan SMK telahir sebagai wirausaha yang penuh dengan daya saing, kreatifitas dan inovasi sehingga produk ataupun jasa yang dihasilkan oleh para alumnus SMK tidak kalah dengan produk dan jasa yang telah ada sebelumnya.

3.1.1.5  Konsep Pengembangan PSG untuk SMK
Pendidikan Sistem Ganda atau yang lebih akrab dikenal sebagai Praktek Kerja lapangan adalah suatu bentuk penyelengaraan pendidikan keahlian profesional yang memadukan antara program pendidikan di sekolah dengan program penguasaan yang diperoleh dari kegiatan bekerja langsung di dunia kerja untuk meningkatkan kompetensi dan keahlian, sehingga mampu mencapai pada titik profesional dalam bekerja.


Konsep Pembelajaran PSG
Suatu ilmu pengetahuan dan teknik dapat kita pelajari disekolah dan dimana saja akan tetapi kiat tidak dapat diajarkan, oleh karena itu perlunya sebuah pendidikan melalui proses mengerjakan suatu pekerjaan  secara langsung sesuai dengan keahlianya. Pada pendidika PSG ini diharapkan peserta didik mampu menerapkan ilmu yang dia dapat serta mempelajari secara langsung bagaimana prakteknya pada dunia kerja.
Secara garis besar tujuan dari PSG adalah:
·           Menghasilkan tenaga kerja yang memiliki keahlian profesional ( dengan tingkat pengetahuan, keterampilan, dan etos kerja yang sesuai dengan tuntutan lapangan kerja ).
·           Memperkokoh ” link and macth ” antara sekolah dengan dunia kerja.
·           Meningkatkan efisiensi proses pendidikan dan pelatihan tenaga kerja yang berkualitas profesional.
·           Memberi pengakuan dan penghargaan terhadap pengalaman kerja sebagai bagian dari proses pendidikan.
Konsep pengembangan PSG inilah yang menjadi titik penting pada sebuah pembelajaran yang terjadi di SMK, karena disinilah tempat para peserta didik untuk dapat merasakan secara langsung kondisi bagaimana ketika dia nanti terjun dalam ranah kerja, namun banyaknya SMK tidak diimbangi dengan banyaknya juga tempat yang menyiapkan tempat untuk melakukan PSG tak ayal, sebagian besar melakukan magang ditempat yang kurang mendukung, kurang merangsang untuk lebih mengali potensi yang ada pada dirinya. Disinilah peran pemerintah dan pendidik yang harus turun tangan. Pemerintah dan pendidik harus mempersiapkan tempat magang yang memadai guna tujuan SMK bisa tercapai.
Apalagi semakin banyaknya SMK industri yang ada juga tidak diimbangi dengan jumlah industri yang ada dan belum adanya kesadaran dari pelaku industri sendiri membuat sulitnya mencari tempat magang. Smk dirasa perlu mambuat unit usaha kecil seperti perusahaan pendidikan yang dimana pengelolaanya dipegang oleh para peserta didik, hal ini meniru pola-pola pengembangan yang ada di universitas-universitas yang ada di indonesia
3.2         Konsep pengembangan Guru SMK.
Salah satu bentuk pengakuan terhadap profesi guru saat ini adalah sertifikasi tetapi tidak sedikit kualitas kompetensi dari seorang guru malah cenderung turun itulah yang seharusnya menjadi perhatian khusus, apalagi bila dikaitkan dengan perkembangan zaman yang begitu cepat, guru tidak boleh lamban dalam merespon zaman, guru harus terus berkembang. Guru kejuruan adalah pendidik yang seharusnya terus bertransformasi.
Sekolah Menengah kejuruan (SMK) adalah lembaga pendidikan yang mempunyai tugas untuk menyiapkan tenaga kerja yang profesional dalam dunia kerja. Program pendidikan SMK haruslah mampu mengikuti perkembangan tekonologi industri, karena itu berkaitan dengan kompetensi yang dibutuhakan. Pendidik adalah sebuah bagian dari sistem pendidikan yang merupakan roh dari pendidikan itu sendiri, di SMK guru dituntut untuk mampu menyesuaikan kompetensi dan kinerjanya seiring perubahan itu. Profesionalisme dan kualitas gurupun harus terus dimbangkan pula.
Penyelengaraan pendidikan yang berkualitas harus mampu menghadapi perubahan baik yang terjadi saat ini ataupun dimasa depan baik perubahan teknologi, ilmu pengetahuan ,aupun struktur ketenagaan kerja. Guru sebagai pelaksana pendidikan saat ini dihadapkan pada perubahan yang cepat, permintaan standar yang tinggi dan tuntutang peningkatan mutu,  sehingga mengharuskan guru memperbaharui dan meningkatkan ketrampilan melalui pembelajaran (Craft, 1996: 5).
Apabila guru mampu mempelajari apa yang akan dibutuhkan dan sangup mempelajarinya dan mengajarkan kepada peserta didiknya mampu mencapai kompetensi yang diinginkan dan bukan tidak mungkin kompetensi dari peserta didiknya meningkat pula dan mampu bersaing dimasa depan.

3.2.1.1  Konsep Pengembangan Guru SMK dalam Mengembangkan Pengetahuan     dan Ketrampilan
Peningkatan pengetahuan dan ketrampilan merupakan salah satu aspek dan titik berat pola pengembangan guru SMK, pengetahuan yang diperlukan guru dalam pengembangan keprofesionalan antara lain: pengetahuan materi ajar (content knowledge), pengetahuan pedagogis (pedagogical knowledge), dan pengetahuan kontekstual (contextual knowledge) (Diaz-Maggioli, 2004:17).
Peningkatan ketrampilan dan pengetahuan yang harus mampu di kelola guru agar dapat meningkatkan kompetensinya meliputi kemampuan khusus dan pengetahuan prosedural. Pengetahuan khusus meliputi teoritis, praktik, dan pengalaman. Sedangkan pengetahuan prosedural meliputi pengetahuan tentang bagaimana sesuatu dapat bekerja dan bagaimana sesuatu itu bisa saling terhubung serta berjalan (Harteis, 2009: 151-158).
Dari pernyataan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa kemampuan mengelola pengetahuan dan ketrampilan yang bersifat teoritis dan praktis harus terus dikembangkan untuk meningkatkan kompetensi guru itu sendiri dan juga peserta didiknya nantinya.

3.2.1.2  Konsep Pengembangan Guru SMK dalam Mengembangkan Keprofesionalan.

Keprofesionalan adalah proses belajar lanjut yang dibutuhkan bagi guru untuk meningkatkan kompetensi dan keahlian dalam rangka tugas profesinya. Pengembangan keprofesionalan sebagai bagian dari proses pembelajaran kemampuan untuk memberikan manfaat peningkatan dan penguatan terhadap keahlian, tugas dan karier guru dalam menghadapi perubahan yang terjadi. Dengan demikian, kecermatan dalam memilih dan menetapkan kegiatan diperlukan bagi guru.
Menurut Buku 4 Pedoman Kegiatan Pengembangan Keprofesionalan dan Angka Kredit (kementrian pendidikan Nasional 2010b:1), terdapat 3 macam pola pengembangan keprofesionalan guru yaitu meliputi pengembangan diri, publikasi ilmiah dan karya inovatif. Pola pengembangan diri bisa didapatkan dengan pengembagan yang dilakukan oleh guru itu sendiri karena kesadaran akan keadaan terkini atau mungkin dengan seminar-seminar yang diadakan departemen pendidikan nasional tentang pengetahuan dan keahlian tambahan. Sedangkan publikasi karya ilmiah dan karya inovatif  ini diperuntukan bagi guru yang melakukan penelitian ilmiah baik dengan peserta didiknya maupun sendiri, diharapkan dengan adanya publikasi karya ilmiah ini pendidik termotivasi dan bersama-sama mengembangkan dan menyempurnakan karya yang ada agar dapat berfungsi secara optimal.

3.2.1.3  Konsep Pengembangan Guru Kinerja SMK.
Kinerja adalah apa yang dilakukan dalamm bekerja, sehingga kinerja guru dapat diartikan sebagai apa yang dilakukan dalam pekerjaan guru baik mengajar, mendidik dll. Kinerja guru berkaitan dengan tugas perencanaan,pengelolaan pembelajaran dan penilaian hasil belajar peserta didik (wina sanjaya, 2005:13-14), sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa kompetensi yang dimiliki guru sangat mempengaruhi bagaimana kinerja dan hasil kinerja itu sendiri yang dapat dilihat ketika melaksanakan tugas mengajar.
Menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standart Kualifikasi Akademik dan Kompetensi utama, yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial dan profesionalisme. Keempat pilar itu terintegrasi menjadi kinerja guru. Pelaksanaan tugas utama guru tidak dapat dipisahkan dari kemampuan seorang guru dalam menguasi pengetahuan, penerapan pengetahuan dan ketrampilan sebagaimana tuntutan standar kompetensi yang dipersyaratkan(Kementrian Pendidikan Nasional 2010c:3).
Dari beberapa pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa kinerja guru, kompetensi guru, dan tugas pokok guru memiliki keterkaitan erat satu dengan lainnya. Kinerja guru direfleksikan melalui kompetensi guru yang diimplementasi dalam tugas pokoknya.
Pola pengembangan kinerja guru SMK harus diperhatikan dan perlu ditingkatkan, pendidik SMK berbeda dengan pendidik lainya pengembangan harus terus dilakukan agar terwujudnya peserta didik yang benar-benar unggul.





BAB III
PENUTUP
1.1                   Kesimpulan dan Saran
Pendidikan SMK merupakan pendidikan yang menyiapkan secara khusus peserta didiknya untuk mampu terjun didunia kerja secara langsung, ditengah perkembangan zaman seperti sekarang ini SMK dituntut mampu terus berkembang mengikuti zaman, dan itu juga yang harus dilakukan oleh pendidik SMK . Sehingga pembelajaran SMK haruslah berorientasi dengan kemajuan zaman saat ini dan dimasa yang akan datang.
SMK juga harus bertransformasi untuk tidak hanya menyiapkan peserta didiknya menjadi seorang calon pekerja tetapi juga wirausahawan karena jumlah angkatan kerja tidak sebanding dengan jumlah permintaan kerja yang ada di industri ataupun bisnis. Pola penanaman jiwa enterpreanur juga harus terus ditanamkan guna menciptakan pemikiran peserta didik untuk menciptakan lapangan pekerjaan bukan untuk diperkejakan.
Penempatan peserta didik untuk magang haruslah tepat karena berkaitan dengan bagaimana pengalaman peserta didik di dunia kerja, serta menambah pengetahuan dan ketrampilan yang ada pada peserta didik. Serta peningkatan kinerja pendidik dengan selalu mengembangkan kemampuan baik keprofesionalan,  pengetahuan maupun ketrampilan yang berorientasi pada perkembangan teknologi, serta kompetensi apa yang dibutuhkan industri saat ini.
Sudah saatnya sekarang ini kompetensi yang harapkan dijadikan kultur pada sekolah sehingga menjadikan kompetensi tersebut menjadi softskill yang terbentuk atas kerelaan dan kesadaran untuk ingin menjadi sumber daya manusia yang lebih baik, tanpa harus diukur oleh sebuah nilai kelulusan. apabila ini sudah mendarah daging maka dpat dipastikan lulusan SMK adalah lulusan yang benar-benar dapat bersaing dengan kompetensi yang ada bukan hanya karena nilai kelulusan.
Peran pemerintah untuk terus mendukung SMK dengan karya yang dihasilkan juga dirasa perlu sehingga lulusan SMK mungkin dapat berintegrasi menjadi satu membuat sebuah industri dibawah kementrian pendidikan nasional dan BUMN untuk menghasilkan sebuah produk karya anak bangsa yang mampu bersaing dengan produk yang ada, termasuk bersaing dengan produk buatan luar negeri.



1.2                   Kritik dan Saran Makalah
Demikian yang dapat saya paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini. Penulis menyadari dalam makalah ini masih banyak kekurangan dan kelemahan, kerena keterbatasan pengetahuan dan kekuragan referensi yang berhubungan dengan judul makalah ini.
Penulis banyak berharap pembaca memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan penulisan makalah di kesempatan – kesempatan berikutnya. Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya pembaca pada umumnya.

















DAFTAR PUSTAKA
Craft, A. (1996). Continuing professional development: practical guide for teacher and schools. New York: Routledge.
Dedi Supriadi.1990.”Globalisasi: Dunia Tanpa Tapal Batas”(Tinjauan Buku). Tirtarahardja,Umar dan La Sulo.2008.Pengantar Pendidikan.Jakarta:Rineka Cipta
Diaz-Maggioli, G. (2004). Teacher-centered professional development. Virginia: Association for Supervision and Curriculum Development.
Emil Salim.1990.”Pembekalan KemampuanIntelektual untuk Menjinakkan Gelombang Globalisasi”(Tinjauan Buku). Tirtarahardja,Umar dan La Sulo.2008.Pengantar Pendidikan.Jakarta:Rineka Cipta
Harefa, Andreas. (2000). Menjadi Manusia Pembelajar. Jakarta: Kompas.
Harteis, C. (2009). Professional learning and TVET: Challenges and perspectives for teachers and instructors. Dalam Maclean, R., & Wilson, D. (Eds.). International handbook for changing world of work: Bridging academic and vocational learning. Bonn: Springer
Joko Sutrisno, 2003, Pengembangan Pendidikan Berwawasan Kewirausahaan SejakUsia Dini, Bandung : IPB
Kementerian Pendidikan Nasional. (2010a). Pedoman pengelolaan pengembanga keprofesionalan berkelanjutan, Buku 1. Jakarta: Kementerian Pendidikan Nasional, Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan.
Kementerian Pendidikan Nasional. (2010b). Pedoman kegiatan pengembangan keprofesionalan berkelanjutan dan angka kreditnya, Buku 4. Jakarta: Kementerian Pendidikan Nasional, Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan.
Kementerian Pendidikan Nasional. (2010c). Pedoman pelaksanaan penilaian kinerja guru, Buku 2. Jakarta: Kementerian Pendidikan Nasional, Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan
Mulyasa, E. (2007). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Mutis, Thoby, 1995. Pembangunan Koperasi, Jakarta : Yayasan Bina Bakti Pratama.
Refleksi:Budaya Dunia”.1990.MimbarPendidikan.Jurnal Pendidikan No.4 tahun Ixh.3-4
Spencer & Spencer, (1993). Competence At Work. NewYork: John Wiley & Sons. Inc.
Tirtarahardja,Umar dan La Sulo.2008.Pengantar Pendidikan.Jakarta:Rineka Cipta
.